Petaka Kekeringan dan Matinya Sumber Air

28 Nov 2012

Sudah rahasia umum, belakangan ini media menyajikan gambar yang memilukan. Warga berebut air bersih di kran umum di musim kemarau atau beberapa wanita tua harus berjalan berkilo-kilometer demi mendekat sumber air. Belum lagi, warga perkotaan dihadapkan pada keruhnya air yang mereka dapat dengan membayar ke perusahaan air minum. Sedih rasanya bagi saya yang tinggal berlimpah air di Kota Malang. Meski tak jauh dari tempat saya tinggal, pemandangan macam itu kerap saya temui di Malang Selatan.

Karakteristik sumber air di Kota Malang memang berbeda dengan Malang Selatan. Dari 13 sumber air yang diambil oleh PDAM Kota Malang, total produksinya mencapai 39.940.389,86 m3 dengan distribusi sebesar 37.943.370,37 m3. Ini untuk melayani 106.397 pelanggan. Tak heran, jika berita kelangkaan air di Kota Malang tak pernah saya temui sejauh ini. Meski demikian, kebocoran air masih kerap terjadi. Per harinya bisa mencapai 967.988 liter (Profil PDAM Kota Malang 2012).

f60ebb58af8bb85a46e6fbb309ce5f8e_sumber

Sumber air yang dikelola PDAM Kota Malang

Mata air di Wendit ini bersumber dari daerah tangkapan air (catchment area) di pegunungan yang secara secara administrasi berada di Kabupaten Malang. Jika kita hendak menuju gunung Bromo melalui jalur Malang, kita bisa membayangkan area tersebut. Sejatinya, untuk mempertahankan debit atau jumlah air yang keluar dari sumber, kita harus melakukan konservasi serius terhadap catchment area tersebut. Sementara untuk menjamin kualitas, patut diperhatikan zona 1 yang berjarak kurang dari 10 meter sumber. Harus steril zona ini. Tidak ada WC, atau sumber bakteri lainnya.

Berbeda dengan wilayah Malang Selatan. Sebagian diantaranya dataran karst. Dataran jenis ini biasanya ditandai dengan aliran bawah tanah, dan jenis tanah sebagian berkapur hingga muncul gua di beberapa tempat. Ini terjadi lantaran daerah tersebut berada diantara 2 cekungan. Bisa laut dan sungai, seperti yang dijumpai di Malang selatan. Sumber air kebanyakan dari sumur yang kerap mengering ketika musim kemarau tiba.

Kembali tentang catchment area. Sebagai area penjamin jumlah air yang keluar di sumber. Justru zona inilah yang sering rusak. Entah itu akibat penebangan hutan liar, kebakaran atau alih fungsi menjadi lahan pertanian. Air hujan menjadi sulit masuk tanah dan tersimpan di dalamnya (air bawah tanah). Pada lahan terbuka di kelerengan, air hujan memilih untuk memecah partikel air dan mengalir melalui permukaan tanah ke sungai atau drainase lain. Inilah penyebab keruhnya air permukaan hingga dangkalnya waduk oleh sedimentasi.

Kelangkaan galon

Fenomena yang kita temui belakangan diantaranya adalah kelangkaan galon. Ini disinyalir karena berkurangnya produksi Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) itu sendiri. Karena kerusakan catchment area tadi. Kejadian ini memicu warga untuk mencari alternatif air minum lainnya. Seperti merebus air sendiri dari air PDAM, atau mengikuti program Zona Air Minum Prima (air kran siap minum) atau ada yang menggunakan produk elektronik penjernih air (water purifier), seperti Pure It.

f3a4843110ab2eca998160ef4471ae4f_gambar_komponen_bagian_indikator_filter_saringan_unilever_pureit_pure_it-500x500

Teknologi Pure It

Meskipun belum populer, namun upaya-upaya itu menjadi penting untuk disebarkan kepada masyarakat. Terutama mereka yang berada di hilir daerah aliran sungai (DAS). Biasanya warga perkotaan. Berada di bagian hilir DAS memang rentan terhadap masalah air. Dari kualitas air buruk sehingga mengganggu kesehatan, kelangkaan air hingga harus membayar mahal untuk membeli air bersih.

Mahalnya air bersih sendiri lebih disebabkan karena rendahnya kualitas sumber air. Biasanya sumber air permukaan. PDAM akan mengeluarkan biaya produksi lebih jika mendapati kualitas air buruk, sehingga penambahan biaya pengolahan air tersebut dibebankan kepada pelanggan. Inilah yang menyebabkan mahalnya air bersih di kota-kota besar, seperti di Jakarta atau di Surabaya.

Maka, jika ingin menjamin sumber air yang berlimpah berkualitas, melestarikan hutan adalah kuncinya. Biarkan hutan sedemikian adanya, sehingga akarnya mampu membuat pori tanah sebagai pintu masuknya air ke dalam tanah yang akan menjamin kelestarian sumber. Jika tidak, maka akan terjadi seperti di Kota Batu. Dari 111 sumber air yang ada, kini tinggal 57 titik (Publikasi KLH Kota Batu). Sementara jumlah penduduk kian meningkat. Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi kelak.

1575f426ec31cc9f7dbbfb7a05f8d7f3_hutan-ideal

Hutan sebagai tempat ideal tersimpannya air bawah tanah

Kelangkaan Air berbuah Petaka Layaknya Kelangkaan Minyak

Kelangkaan air dikhawatirkan akan memicu konflik seperti halnya kelangkaan minyak. Negara dengan sumber air bersih yang melimpah, akan diserbu oleh negara dengan kelangkaan air. Kekhawatiran ini cukup beralasan. Mengingat kebutuhan manusia akan air bersih tidak akan pernah bisa digantikan. Bahkan, tubuh kita 55-78 %nya adalah air, dan kita membutuhkan air minum 8 gelas sehari. Jika air langka, maka penyakit yang disebabkan oleh kekurangan air atau kekentalan darah akan merajalela.

cbbee7e7406dd376c1537ee2bd9bd89e_antri-air

Berdesakan antri Air kala galon langka

Mulai sekarang, perlu berhemat air, agar masih bisa berlanjut kehidupan sumber air itu, lestarikan hutan sejak dini, demi anak cucu kita agar mereka masih bisa minum air 8 gelas sehari sesuai kebutuhan. Benar adanya motto yang sering kita baca. Wariskan Mata Air untuk Anak Cucu Kita, jangan Mewariskan Air Mata.


TAGS PureIt sumber air lestari hutan air minum


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post